Rabu, 07 Juli 2010

Kado untuk Murid yang Lulus


Pagi itu wajah yang cerah terpancar dari murid-murid kelas VI SD Negeri 8 Gumelem Kecamatan Susukan Banjarnegara. Tak ayal lagi Sabtu, 21 Juni 2010 merupakan hari perpisahan kelas VI. Dari 14 murid kelas VI, empat diantaranya merupakan pembatik cilik yang menjadi subyek dalam film dokumenter “Goresan Anak-Anak Gumelem”.

Mereka adalah Desi Makhrifah, Avi Alfiah, Listiah dan Sugi. Pada hari istimewa ini film dokumenter yang disutradarai Bowo Leksono diputar di aula sederhana SD Negeri 8 Gumelem.

Antusias
Acara perpisahan dihadiri wali murid kelas I hingga kelas VI dan seluruh murid SD Negeri 8 gumelem sehingga tiga ruang kelas yang dilepas sekat dindingnya menjadi aula sederhana itu sangat padat bahkan hadirin membludak.

Walaupun suasana panas di dalam ruangan, tak menyurutkan semangat hadirin untuk mengikuti keseluruhan acara termasuk pemutaran film.

Menurut Kepala SD Negeri 8 Gumelem Subarjo Spd, pemutaran film baru pertama kali diadakan di SD tersebut. Ia merasa senang dengan hadirin yang sangat antusias menonton film apalagi beberapa siswinya menjadi tokoh utama di film tersebut.

Beberapa wali murid juga berharap pemutaran film diadakan lagi pada perpisahan tahun mendatang apalagi bintang filmnya anak Gumelem sendiri yang bersemangat membatik.

Pemilihan acara nonton film bersama menurut Tri, salah satu guru, bertujuan untuk membangkitkan semangat anak-anak Gumelem agar membatik menjadi hal yang menyenangkan. “Jika menjadi kebiasaan seperti yang dilakukan pembatik cilik dirumah masing-masing sehingga tradisi yang ada dari jaman dahulu dapat lestari,” tuturnya.

Prestasi
Angka kelulusan di SD Negeri 8 Gumelem mencapai 100 persen. Prestasi terbaik diraih oleh dua pembatik cilik Avi Alfiah sebagai siswi dengan peringkat terbaik dan Listiah menempati peringkat kedua.

Pemutaran film ini juga menjadi kado kelulusan bagi anak-anak kelas VI yang terus belajar dan berkarya sehingga membuahkan prestasi yang membanggakan, serta dijadikan contoh bagi adik kelas untuk terus menjaga warisan budaya bangsa.

Tak bisa dipungkiri bahwa film mampu berbicara lebih bahkan memberikan perubahan yang positif bagi sebuah proses pembelajaran dan pewarisan budaya. Rulia Iva

Jumat, 30 April 2010

Gumelem di Mataku (premiere)


Generasi penerus dengan beragam latar belakang, semestinya cerdik bagaimana “nguri-uri” peninggalan nenek moyang. Tentu, bila bukan generasi muda, siapa lagi? Namun justru di tangan generasi muda inilah sejatinya nasib peninggalan tradisi berada.

Anak-anak muda Banjarnegara yang dimotori pegiat perfilmannya berusaha dengan caranya dalam melestarikan budaya. Dengan mata kamera mereka menangkap realita peninggalan budaya yang tersisa.

Sudah sejak awal tahun hingga memasuki bulan April 2010, beberapa pegiat perfilman di Banjarnegara sepakat melakukan riset di Gumelem, wilayah yang masuk Kecamatan Susukan. Gumelem sendiri adalah daerah yang terbagi menjadi dua desa; yaitu Desa Gumelem Kulon dan Desa Gumelem Wetan.

Gumelem adalah daerah yang menyimpan tumpukan “harta” yang belum banyak tersentuh. Harta peninggalan nenek moyang yang masih sangat mungkin untuk digali, diangkat, dan disejajarkan di zaman modern ini.

Enam Film Dokumenter
Eksotisme Gumelem yang lebih dikenal sebagai desa batik sangat menarik untuk diangkat dalam sebuah media film. Terlebih, terkait pelestarian peninggalan budaya. Realita ini menjadi daya tarik yang kemudian diabadikan dalam film dokumenter.

Berawal dari keinginan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga yang kemudian mengajak serta pegiat film Banjarnegara untuk memfilmkan batik Gumelem. Hasil dari riset ada sekitar 11 tema terkait eksotisme Gumelem dengan peninggalan-peninggalan budaya dan tradisinya.

Dalam perjalannya dibuatlah program bersama pegiat film Banjarnegara yang tergabung dalam Forum Komunitas Film Banjarnegara kerja bersama CLC dengan mengajak pembuat film muda yang masih duduk di bangku SMA se-Banjarnegara. Program itu berupa produksi film bersama dari tema-tema hasil riset.

Dari 11 tema yang ada, digarap oleh 12 kelompok produksi. Hingga akhir program, terkumpul enam karya film dokumenter. Empat karya dari pelajar SMA dan dua karya pegiat film Banjarnegara lainnya. Karya-karya siap tonton itu akan diputar perdana pada Sabtu, 1 Mei 2010 di Pendapa Bupati Banjarnegara, pukul 19.00 WIB.

Film-film tersebut adalah “Mengintip Jejak Mataram” sutradara Dani Dwijaka Sudrajat produksi Jurnalistik Film Fotografi-Ekskul (JFF) SMA N 1 Sigaluh, “Pendekar Besi” sutradara Anggi Setya Prayoga produksi Pamover Production (SMK N 1 Bawang), “Kisah Keluarga Kerajaan” sutradara M. Khirul Anwar produksi Panchavieker Production (SMK N 1 Bawang), “Lengger Gumelem” sutradara Sugino produksi Komunitas Film Tamsis (SMK Tamansiswa), “Pudarnya Malam di Gumelem” sutradara Rulia Iva Dhalina produksi Baracinema Production, dan “Goresan Anak-Anak Gumelem” sutradara Bowo Leksono produksi GoldWater.

Kamis, 08 April 2010

Batik Gumelem Difilmkan



Catatan 8: Produksi Film Dokumenter Batik Gumelem

Salah satu faktor punahnya sebuah peninggalan tradisi adalah ketika tidak ada generasi yang menjadi pelestari peninggalan tradisi itu sendiri. Modernitas telah menggilas dengan tanpa ampun segala yang berbau tradisi. Butuh manusia-manusia bijak yang mampu menjembatani modernitas di satu sisi dan tradisi di sisi lain.

Batik, sebagai salah satu peninggalan budaya yang penting bagi bangsa Indonesia, telah mendapat pengakuan dunia melalui Unesco bahwa batik merupakan Warisan Bukan Benda Asli Indonesia pada 2 Oktober 2009. Apakah pengakuan dunia ini akan menjadi pemantik bagi kita untuk terus melestarikannya? Atau sebaliknya?

Seni membatik ada di hampir seluruh penjuru Nusantara. Masing-masing daerah penghasil batik tersebut memiliki kekhasannya. Tak terkecuali Banyumas, wilayah yang berada di bagian barat daya Provinsi Jawa Tengah. Konon, peninggalan batik ini merupakan peninggalan keraton. Batik adalah pakaian khas keluarga keraton.

Mengapa kemudian tradisi membatik muncul di wilayah Banyumas? Kenyataan ini karena ada keturunan atau keluarga keraton/kerajaan Mataram yang hijrah atau mengungsi akibat pertikaian hingga wilayah pesisir. Mereka kemudian menetap dan melanjutkan tradisi membatik.

Kekhasan batik pada wilayah-wilayah tertentu akibat dipengaruhi lingkungan sekitar. Begitu pula dengan batik Banyumas. Wilayah Banyumas sendiri yang meliputi empat kabupaten; Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara, terdapat penyebaran desa-desa penghasil seni batik.

Di Kabupaten Banjarnegara, sentra batik sudah lama dikenal yaitu di Desa Gumelem, yang masuk wilayah Kecamatan Susukan. Kekhasan batik dan eksotisme Desa Gumelem yang terbagi menjadi dua desa yaitu Desa Gumelem Wetan dan Desa Gumelem Kulon telah memancing pembuat film Purbalingga untuk mendokumenterkannya.

Di bawah bendera Goldwater dengan arahan sutradara Bowo Leksono yang kemudian mengajak serta para pegiat film dari Banjarnegara, batik Gumelem diangkat ke dalam film dokumenter. Sudah sejak awal tahun 2010, riset terkait batik Gumelem dilakukan hingga memasuki bulan April 2010 tahap pengambilan gambarnya.

Pembatik Cilik
Sebagai desa batik, Gumelem sendiri sangat menarik untuk diangkat dalam sebuah media film. Terlebih, terkait pelestarian peninggalan budaya, Gumelem mampu melahirkan pembatik-pembatik cilik yang bisa dipastikan tidak terdapat di desa-desa batik di wilayah Banyumas.

Realita ini menjadi daya tarik yang kemudian diabadikan dalam sebuah film dokumenter. Ada sedikitnya 15 anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sebagian besar membatik karena pengaruh keturunan. Sisanya, lingkungan telah menyeret mereka untuk sedini mungkin belajar membatik.

Anak-anak desa yang polos itu harus berjuang dengan jalan membenturkan arus modernitas dengan tradisi yang terus hidup di lingkungannya. Generasi di atas mereka, sama sekali tidak mewarisinya sebagai wujud melestarikan budaya bangsa. Karena itu, terjadi semacam jurang generasi yang cukup jauh.

Anak-anak muda Gumelem memilih hengkang dari desanya untuk mengadu nasib di kota besar dengan harapan mempunyai penghidupan yang lebih baik. Kemudian strategi apa agar anak-anak Gumelem kelak tidak turut meninggalkan kampung kelahiran yang berarti meninggalkan tradisi nenek moyang?

Masuk Mulok
Edukasi bisa dianggap sebagai cara sekaligus kunci strategis bagaimana anak-anak atau generasi penerus Gumelem mampu mempertahankan kebanggaan sebagai penerus budaya membatik. Ada beberapa Sekolah Dasar baik di Desa Gumelem Wetan maupun Gumelem Kulon yang memasukkan kurikulum muatan lokal berupa batik.

Tidak cukup sampai di situ, dua SMP yaitu SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Susukan pun memasukkan mulok membatik dalam kurikulumnya. Meskipun belum memberikan pengaruh yang besar, paling tidak Gumelem dengan caranya sendiri telah melakukan pembibitan sebagai kekuatan pelestari peninggalan budaya bangsa.

Produksi film dokumenter terkait para pembatik cilik Gumelem ini telah masuk tahap postproduksi. Rencananya, film ini akan diluncurkan perdana tepat pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 bersama film-film dokumenter yang diproduksi pelajar SMA-SMA di Banjarnegara yang juga mengambil subyek terkait eksotisme Gumelem.

Minggu, 21 Februari 2010

Bersemuka dengan Para Pembatik Cilik


Catatan 7: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Rasa bahagia bercampur haru saat bersemuka bersama belasan pembatik cilik dari Gumelem, Minggu, 21 Februari 2010, di Balai Desa Gumelem Wetan. Tidak sekedar pada pancaran mata mereka penentu nasib perbatikan di Gumelem, namun mereka adalah penerus warisan budaya bangsa.

Bukan sesuatu yang muluk memang kita menggantungkan harapan pada mereka, namun tidak adil pula bila kelak dikemudian hari mereka menjadi dan menjalin profesi apapun yang mereka mau dan suka.

Paling tidak, karena keterpengaruhan keluarga dan lingkungan, mereka bisa disebut sebagai pembatik muda. Diusia belasan tahun sudah bisa memainkan canting. Soal akan jadi apa mereka kelak, waktu dan jamanlah yang menjawabnya.

Usia SD dan SMP
Tengoklah Maya, yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar 4 Gumelem Wetan. “Cita-cita saya jadi artis penyanyi,” katanya dengan senyum simpul. Dan Maya pun mendendangkan sebuah syair lagu ndangdut dari penyanyi idolanya Ridlo Rhoma. Bukan tidak mungkin cita-cita Maya terkabul dan saat menyanyi pakaian batik produk gumelem kerap menempel di badannya.

Sementara Tia, siswi SD Negeri 8 Gumelem Kulon ini dengan malu-malu berucap kelak ingin menjadi guru SD. Cita-cita yang mulia tentunya. Lain lagi Sugi, kelas 6 SD Negeri 8 Gumelem kulon, ia secara terang-terangan ingin menjadi seorang pengusaha batik sukses, mencontoh salah satu pembatik sukses di desanya, Suryanto.

Belasan pembatik cilik dari Gumelem itu akan menjadi subyek film dokumenter, disamping subyek-subyek pendukung lainnya, masih duduk di bangku SD dan SMP. Mereka adalah bagian dari narasi nasib batik Gumelem, masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

Gumelem, 21 Februari 2010

Minggu, 07 Februari 2010

Pelajar SMA/SMK Banjarnegara Belajar Membuat Film


Catatan 6: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Diluar dugaan, sembilan perwakilan pelajar SMA/SMK se-Kabupaten Banjarnegara tumplek di Balai Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Minggu (7/2). Sekitar 30 pelajar tersebut bermaksud belajar bersama membuat film dokumenter terkait Desa Gumelem.

Kesembilan sekolah tersebut adalah SMA Negeri 1 Banjarnegara, SMK Negeri Bawang, SMA Negeri 1 Wanadadi, SMA Negeri 1 Klampok, SMA Negeri 1 Sigaluh, SMK Tamansiswa, SMK Danurajah, MAN 2 Banjarnegara, SMA Negeri 1 Bawang.

Para pelajar tersebut mendapat semacam pembekalan dan persoalan-persoalan teknis terkait rencana produksi film dokumenter tersebut dari Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga dan kawan-kawan pembuat film dari Banjarnegara.

Terkumpul sekitar 10 tema atau subyek dokumenter yang hendak diwujudkan menjadi karya film. Ke-10 subyek tersebut antara lain Sajadah Batu, Pandai Besi, Keluarga Kerajaan, Kerajinan Kerang, Pemandian Air Panas, Masjid Kuno, Kesenian Tradisi, Rumah Kuno, Pakembara, dan Makam Kuno.

Pra Produksi/Riset
Hari itu juga, para pelajar diterjunkan ke lapangan sebagai penanda dimulainya riset/penelitian yang nantinya menjadi bahan dasar dari proses produksi film dokumenter. Perdana dipertemukan dengan narasumber masing-masing tema sekaligus ‘kulonuwun’. Selanjutnya, mereka akan menjalankan riset sendiri dengan tetap mendapat fasilitasi dan pendampingan.

Kesepakatan waktu sekitar satu bulan dimanfaatkan untuk riset sampai para pelajar mampu mengisi proposal produksi dan membuat skrip dokumenter. Selanjutnya mereka akan memproduksi secara independen.

Kompilasi Film Dokumenter
Rencananya, bila kesepuluh tema tersebut berhasil diproduksi, akan dibuatkan kompilasinya dan puncak acara pemutaran bersama pada 2 Mei 2010 bertepatan Hari Pendidikan Nasional. Bertempat di kompleks pendapa Bupati Banjarnegara.

Rabu, 30 Desember 2009

Ibu-Ibu 'Sinau' Membatik


Catatan 5: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Belasan ibu-ibu PKK dengan semangat dan penuh ketekunan belajar membatik di emperan balai desa Gumelem Wetan, Selasa, 29 Desember 2009. Beberapa ibu yang lain ada di dalam balai desa untuk mengerjakan motif batiknya.

Sudah selama beberapa bulan, para ibu rumah tangga itu ‘sinau’ peninggalan tradisi yang sudah turun-temurun di desa mereka sebagai wujud pelestarian. Mulai dari cara membuat motif, menulis/membatik, sampai ‘mbabar’/mencelupkan kain yang sudah dibatik ke dalam obat kimiawi tertentu untuk pewarnaan.

Pelatihan membatik ibu-ibu di Desa Gumelem Wetan ini termasuk program pemerintah daerah, yang artinya anggarannya masuk APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Warga berharap Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tidak menghentikan program ini, namun terus berkesinambungan demi pelestarian Batik Gumelem.

Jumpa Sosok Suryanto
Suryanto adalah sosok pemuda yang tergolong langka, khususnya di Gumelem. Tidak hanya ia seorang lelaki (karena pelaku batik didominasi kaum perempuan), namun meskipun bukan karena keturunan, Suryanto dengan penuh kesadaran mau ‘nguri-uri’ tradisi perbatikan.

Lelaki humoris ini telah menciptakan lebih dari 200 motif batik kontemporer. Dengan desain yang variatif sehingga disukai pasar. Bisa dibilang motif-motif ciptaan Suryanto menyimpang dari pakem motif batik yang sudah ada. Namun dengan penciptaan Suryanto, batik Gumelem mampu berbicara di tingkat yang lebih luas.

Gandasuli, 30 Desember 2009

Jumat, 25 Desember 2009

Kunjungan Perdana ke Gumelem


Catatan 4: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Pertama berkunjung ke Gumelem bersama Tim Riset I (Rulia dan Wiwit) pada Rabu, 23 Desember 2009. Memang daerah yang memesona, secara landscape maupun keramahan perangkat desa dan penduduknya.

Dan ternyata, jarak yang ditempuh ke Gumelem lebih dekat dari Purbalingga dibanding dari Banjarnegara kota. Artinya, saya mempunyai jarak tempuh yang lebih dekat dibanding kawan-kawan Banjarnegara yang berumah di Banjarnegara kota.

Gumelem terbagi menjadi dua desa. Desa Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan. Ada sejarah mengapa Gumelem terpecah menjadi dua desa. Konon, Gumelem merupakan tanah Perdikan bernama Kademangan Gumelem yang mempunyai kesejarahan dengan Kerajaan Mataram. Karena terjadi krisis politik dan pemerintahan saat itu, muncul nama Kulon dan Wetan.

Seusai sowan ke Kantor Desa Gumelem Kulon, saya dan kawan-kawan mendatangi salah satu sentra batik tulis milik Mbah Sartinem. Ah, nenek itu terlihat energik dalam mengurus batik-batiknya. Ia dan suaminya menerima kami dengan segenap hati.

Datang ke kediaman Mbah Sartinem, pemandangan menarik pertama adalah ada sekitar tujuh perempuan yang usianya rata-rata Mbah Sartinem bahkan beberapa diantaranya lebih sepuh (tua) tekun membatik di sebuah bilik bambu yang dibangun tepat di depan rumah Mbah Sartinem. Mereka juga menyambut kami dengan keriangan.

Setelah berkunjung ke kediaman Mbah Sartinem, saya dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan mampir ke Balai Desa Gumelem Wetan. Sudah selama beberapa bulan, di Balai Desa Gumelem Wetan ada pelatihan membatik bagi warganya. Sayang, sesampai di balai desa, pelatihan sudah selesai karna kami datang sudah terlalu siang. Untung masih ada kesempatan melihat pelatihan di pekan depan.

Jumpa Sekda Banjarnegara
Sebelumnya, saya masih dengan Tim Riset I dan dengan pendampingan Bu Esti, kawan dari Humas Setda Banjarnegara beraudiensi dengan Sekda Pemkab Banjernegara, Bapak Syamsuddin tepat pukul 07.30 WIB waktu yang dijanjikan.

Pak Sekda menerima kami dengan senang hati dan ngobrol tentang banyak hal. Ia mempunyai harapan besar terhadap apa yang dilakukan saya dan kawan-kawan Banjarnegara soal proses pembuatan film dokumenter Gumelem ini.

Pak Sekda berjanji akan membantu dengan segenap kemampuan dan menginstruksikan kepada Humas Setda Banjarnegara melalui Ibu Esti untuk menyiapkan dan menyediakan apa-apa yang diperlukan saya dan kawan-kawan dalam prosesnya nanti.

Gandasuli, 25 Desember 2009

Senin, 21 Desember 2009

Melibatkan Pembuat Film Muda Banjarnegara


Catatan 3: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Saya sedang berproses untuk tidak egois dalam setiap produksi film saya. Pada awal-awal saya membuat film, beberapa film saya, terutama dokumenter, saya garap dengan hampir semua kemampuan saya. Soal hasil, belum tahu persis apakah film yang digarap dengan kemampuan sendiri lebih baik atau sebaliknya dengan film yang melibatkan kawan lain.

Tapi setidaknya keputusan untuk melibatkan kawan-kawan karena berbagai alasan. Soal regenerasi menjadi alasan utama. Tidak bijak rasanya bila tidak berbagi pengalaman dengan kawan-kawan. Lebih ke arah berproses bersama.

Saya sendiri bukan seorang pembuat film dokumenter handal, atau tepatnya belum handal untuk itu. Karena itulah, saya selalu tertarik untuk belajar membuatnya. Menarik lagi bila dalam belajar membuat film dokumenter bersama kawan-kawan. Dalam rencana memproduksi film dokumenter soal batik Gumelem, Banjarnegara, alangkah asyiknya bila melibatkan kawan-kawan pembuat film muda dari ‘Kota Dawet’ itu.

Seorang kawan dari Banjarnegara bertutur ada sekitar 15 komunitas film di Banjarnegara dan separo atau sekitar 7 diantaranya aktif berproduksi. Belum lagi anak muda Banjarnegara yang di perantauan yang juga turut berproses di dunia film alternatif ini.

Tidak boleh disepelekan tentunya dari sisi jumlah komunitas yang ada. Banjarnegara sendiri diantara tiga kabupaten di Banyumas Raya; Banyumas, Purbalingga, dan Cilacap tergolong yang paling akhir geliat komunitas film pendeknya.

Saat ini, Banjarnegara sedang segar-segarnya berkomunitas. Karena itu mereka sedang butuh bimbingan, butuh pancingan semangat, dan sebanyak-banyaknya media untuk berapresiasi. Termasuk melibatkan kawan-kawan Banjarnegara dalam hal produksi film agar tidak merasa tertinggal dengan tiga kabupaten tetangganya.

Benar adanya, kawan-kawan Banjarnegara merespon dengan luar biasa, setelah saya melemparkan rencana pembuatan film dokumenter tentang tradisi batik di salah satu desa di kabupaten itu.

Saya sendiri menjadi semakin tertantang dan mendapatkan suntikan semangat karena salah satu tujuan utama berproduksi di Banjarnegara adalah keterlibatan kawan-kawan lokal untuk bersama-sama berproses. Dengan harapan, setelah proses ini, kawan-kawan tidak berhenti tapi mampu berproses sendiri secara lebih mandiri.

Gandasuli, 21 Desember 2009

Minggu, 13 Desember 2009

Bertemu Kenalan Lama


Catatan 2: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Beberapa waktu lalu, seorang kenalan lama bersua di dunia maya. Dia menyapa karena ada sedikit urusan terkait riset yang sedang dilakukannya. Kenalan lama saya itu bertanya apakah saya masih berkontak dengan narasumber film dokumenter batik Banyumasan yang pernah saya buat.

Rupanya dia sedikit kecewa, karena narasumber yang dimaksud sudah meninggal beberapa waktu silam. Sayang sekali memang, karena narasumber itu, yang juga seorang profesor dari Universitas Soedirman Purwokerto, boleh dibilang satu-satunya narasumber penting yang mampu menjelaskan dengan gamblang soal batik Banyumasan. Dan beruntung saya telah mendokumenterkannya di tahun 2006.

Esti nama kenalan lama saya itu. Dia sekarang bekerja di Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sudah menjadi pegawai negeri rupanya. Saat saya berkenalan, di tahun 2006, dia masih bekerja sebagai seorang wartawati di Harian Radar Banyumas. Saat itu, dia meliput ketika saya syuting film pendek fiksi berjudul “Senyum Lasminah”.

Sekali Merengkuh Dayung
Saat ini, Esti sedang melakukan riset soal batik Gumelem, Banjarnegara, salah satu sentra batik yang memperkaya khasanah batik Banyumasan. Riset yang Esti lakukan untuk kebutuhan artikel bagi lembaga dimana ia sekarang bekerja. Seperti halnya para periset lain, dengan subyek yang saya anggap menarik, saya menanggapinya dengan sangat serius.

Kemudian, saya tawarkan riset itu tidak sekedar berhenti pada hasil karya tulis semata. Bila mau, mengapa tidak dibuat film dokumenternya? Sudah saya duga, bila Esti akan menjawab tak sanggup mengusahakan biaya untuk memproduksi film dokumenter. Esti juga bilang meskipun duduk di jajaran pemerintahan, namun belum tentu sanggup mengusahakannya.

Saya jadi tersenyum, film dokumenter ini dibuat bukan untuk mencari dana. Tujuannya jelas untuk pendidikan, untuk generasi penerus kelak, untuk masyarakat luas, untuk kepentingan bersama, sebagai media promosi dan kalau boleh disebut sebagai media penyelamat budaya tradisi, Banyumas pada khususnya.

Soal nanti pemerintah daerah atau pihak manapun tertarik untuk membantu, itu soal nanti. Saat ini yang penting adalah kita berkarya dulu. Tak bisa berkarya itu menunggu siapa dulu yang akan membantu. Dan Esti pun setuju.

Siapa tahu, pemerintah daerah akan membantu dikala proses produksi film dokumenter ini berjalan atau sesudah film ini jadi. Karena memang kesadaran diantara kita kerap kali terlambat atau malah kita tak punya kesadaran sama sekali. Saya hanya berpikir bahwa kreatifitas anak muda tak boleh mandek, hanya karena tak ada biaya. Meskipun bukan hal yang salah bahwa biaya adalah salah satu pilar pendukung bagi proses kreatifitas itu.

Anggap saja , lagi-lagi, ini ujian bagi kita, bagi anak muda. Dan tentu ujian bagi pemerintah daerah dan pihak lain juga. Semoga kita jangan sekedar berpangku tangan dan kaki, hanya karena menunggu siapa yang akan melakukan lebih dulu.

Gandasuli, 14 Desember 2009

Jumat, 04 Desember 2009

Mari, Mulai Menganggap Penting Riset!


Catatan 1: PraProduksi Film Dokumenter Batik Gumelem, Banjarnegara

Salah satu kelemahan anak muda Banyumas pada umumnya adalah mengenal dan bahkan melakukan riset/penelitian. Tidak jarang, mereka menganggap remeh itu. Riset biasanya hanya dilakukan untuk urusan sekolah/kuliah. Sisanya karena pekerjaan, yaitu anak muda yang bekerja di lembaga riset/LSM.

Tidak menjadi soal sebenarnya, sepanjang dalam riset itu dilakukan secara serius dan benar. Karena kerap riset dilakukan sekedar mencari nilai (anak sekolah/kuliahan) dan mengejar target laporan (untuk lembaga riset/LSM).

Anak kuliahan sebenarnya berada pada posisi strategis untuk urusan riset. Betapa tidak, usia mereka memasuki tahap kematangan logika, karena itu mulai mudah menangkap pemahaman dan mampu merangkai sesuatu yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di lapangan.

Setiap anak kuliahan mempunyai kewajiban melakukan riset/tugas akhir sebagai syarat mutlak kelulusan mereka. Dan tidak jarang, diantara mereka berkontak dengan saya, berbincang soal riset apa yang hendak mereka garap, atau sekedar curhat terkait riset yang sedang mereka garap. Utamanya terkait ikhwal budaya Banyumasan.

Saya selalu menanggapi serius soal ini. Mengapa? Ya karena jarangnya anak muda yang menganggap serius soal riset. Saya bermimpi, di Banyumas lahir periset-periset muda yang handal. Namun sayangnya, mimpi itu masih terasa jauh.

Saya sendiri bukan seorang periset, apalagi seorang periset yang handal. Saya juga bukan seorang ahli budaya Banyumasan. Tapi bukan berarti saya tidak pernah melakukan kegiatan tersebut. Bagi saya, keahlian riset itu soal pengalaman, soal kebiasaan. Sementara teori, jelas bisa dipelajari. Ada segunung buku yang membahas soal riset. Selebihnya, bisa diunduh dengan mudah dan murah dari “Mbah Google”.

Kebutuhan Riset
Beragam latar orang melakukan riset. Seperti yang saya sebutkan diatas misalnya. Untuk itu, jangan pernah menganggap bahwa hasil riset hanya berguna sesaat, yaitu saat tujuan awal dari riset itu saja. Hasil riset jelas berguna sepanjang masa, untuk segala bidang, utamanya edukasi.

Saya sendiri sedikit banyak bersinggungan dengan urusan riset untuk kepentingan produksi film dokumenter. Tidak banyak film dokumenter yang telah saya buat. Lebih banyak ide dan rencana dokumenter apa yang ingin dan harus saya buat.

Tapi dari tidak banyak itu, saya bisa menyimpulkan betapa penting urusan riset. Karena itu, beberapa anak muda yang akan dan sedang melakukan riset, saya selalu tertarik untuk mendampingi sembari memproduksi film dokumenternya. Untuk itu, mari, mulai menganggap bahwa riset itu penting!

Kampung halaman, 26 November 2009